Seperti biasa setiap idul-adha di rumah pasti ramai, sedulur sekampung yang jago-jago potong hewan pada berdatangan berkumpul. Dan Seperti biasa setiap idul-adha se-isi rumah pasti sibuk, yang perempuan menyediakan makanan dan membungkus hewan qurban untuk di bagi-bagikan, sedangkan yang lelaki memotong, menyisit dan mencercah tulang-tulang hewan qurban.
Ya Alloh terimalah persembahan qurban kami kami ini.
Dan kebetulan saat lagi surfing saya menemukan sebuah puisi bagus dari si burung merak “ W.S Rendra”. judulnya “ Hanya Sebuah Titipan”. puisi yang menurut saya paling populer di posting oleh para blogger lain.
Puisi ini saya copas juga , tuk saya jadikan momentum dalam rangka menyambut hari raya “ Idhul-Adha “. Sekaligus puisi ini ingin saya renungkan semoga segala apa yang saya hadapi akhir-akhir ini , dan juga keinginan yang sampai saat ini belum jelas juga juntrunganya, saya bisa hadapi dengan sikap Ikhlas, pasrah sumerah.
Semoga saya bisa menhadapi ini layaknya seperti sifat air yang mengalir dan selalu mengalir.
Hanya Sebuah Titipan
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku".
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".
WS Rendra
Selamat hari raya idhul adha.



0 comments:
Post a Comment